floating whatsapp

Mengapa Ramadan Selalu Menjadi Puncak Penjualan Produk Kesehatan & F&B

Amelia • 03 Februari 2026

Mengapa Ramadan Selalu Menjadi Puncak Penjualan Produk Kesehatan & F&B

Bulan Ramadan bukan hanya momen spiritual bagi masyarakat Muslim, tetapi juga merupakan periode strategis dengan lonjakan konsumsi paling signifikan di industri Food & Beverage (F&B) serta produk kesehatan dan nutrisi. Setiap tahunnya, Ramadan secara konsisten menciptakan perubahan perilaku konsumen yang berdampak langsung pada permintaan pasar.

Bagi brand owner, pelaku usaha, hingga calon pemilik brand baru, memahami mengapa Ramadan selalu menjadi puncak penjualan adalah langkah awal untuk menyusun strategi produk dan produksi yang tepat.

Perubahan Pola Konsumsi Selama Ramadan

Selama Ramadan, konsumen mengalami perubahan rutinitas harian, mulai dari waktu makan, jam aktivitas, hingga kebutuhan nutrisi. Hal ini menciptakan kebutuhan baru yang lebih spesifik, seperti:

  • Produk yang praktis untuk sahur dan berbuka

  • Asupan nutrisi untuk menjaga stamina selama puasa

  • Produk yang mendukung pencernaan dan hidrasi

  • Makanan dan minuman dengan citra sehat dan aman dikonsumsi harian

Kondisi ini membuat konsumen cenderung lebih selektif, namun di saat yang sama lebih terbuka untuk mencoba produk baru yang relevan dengan kebutuhan Ramadan.



Lonjakan Permintaan Produk Kesehatan & F&B

Data pasar menunjukkan bahwa selama Ramadan terjadi peningkatan signifikan pada kategori:

  • Minuman fungsional dan nutrisi

  • Produk herbal dan suplemen

  • Olahan kurma dan produk berbasis bahan alami

  • Meal replacement dan produk praktis siap konsumsi

Lonjakan ini bukan hanya terjadi pada minggu pertama Ramadan, tetapi biasanya sudah dimulai beberapa minggu sebelumnya, saat konsumen mulai melakukan persiapan.

Bagi brand yang siap lebih awal, Ramadan menjadi momentum akselerasi penjualan, bukan sekadar periode musiman.

Faktor Psikologis Konsumen di Bulan Ramadan

Selain kebutuhan fungsional, Ramadan juga dipengaruhi oleh faktor emosional dan psikologis, seperti:

  • Keinginan menjaga kesehatan selama ibadah puasa

  • Kesadaran lebih tinggi terhadap kualitas dan keamanan produk

  • Preferensi terhadap produk bersertifikasi Halal dan legal

  • Kecenderungan membeli produk untuk konsumsi keluarga

Inilah alasan mengapa produk dengan positioning sehat, aman, dan terpercaya cenderung memiliki performa lebih baik selama Ramadan.


Peluang Besar bagi Brand dan Calon Brand Owner

Ramadan tidak hanya menjadi peluang bagi brand yang sudah besar, tetapi juga momen ideal bagi brand baru untuk masuk ke pasar. Dengan strategi produk yang tepat, brand dapat:

  • Memperkenalkan produk baru dengan konteks kebutuhan Ramadan

  • Membangun kepercayaan konsumen sejak awal

  • Menguji pasar sebelum periode Lebaran

  • Menciptakan repeat order pasca-Ramadan

Namun, peluang ini hanya dapat dimaksimalkan jika brand memiliki perencanaan produksi, legalitas, dan kesiapan supply chain yang matang.

Persiapan Lebih Awal Menjadi Kunci

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah memulai persiapan terlalu dekat dengan Ramadan. Padahal, proses seperti:

  • R&D produk

  • Penyesuaian formula

  • Registrasi legalitas

  • Produksi dan packaging

membutuhkan waktu dan perencanaan yang tidak singkat.

Brand yang mulai mempersiapkan produk sejak jauh hari memiliki keunggulan kompetitif yang signifikan dibandingkan kompetitor yang bergerak mendadak.

Kesimpulan

Ramadan secara konsisten menjadi puncak penjualan produk kesehatan dan F&B karena adanya perubahan perilaku konsumsi, kebutuhan nutrisi yang lebih spesifik, serta faktor emosional konsumen. Bagi brand, Ramadan bukan sekadar momen musiman, melainkan kesempatan strategis untuk tumbuh dan memperkuat posisi di pasar.

Memahami dinamika Ramadan sejak awal adalah langkah penting sebelum menentukan jenis produk, format, hingga strategi produksi yang tepat.