Tren konsumsi protein yang semakin kuat membawa peluang besar bagi industri functional food. Namun di sisi lain, meningkatnya permintaan terhadap whey protein ikut memberikan tekanan pada harga bahan baku. Bagi brand yang ingin masuk ke kategori protein drink, kondisi ini membuat strategi formulasi dan pemilihan sumber protein menjadi semakin penting.
Protein bukan lagi sekadar identik dengan produk olahraga atau suplemen untuk konsumen gym. Dalam beberapa tahun terakhir, protein semakin banyak digunakan dalam berbagai kategori makanan dan minuman, mulai dari protein shake, snack, meal replacement, hingga functional beverage.
Memasuki 2026, tren tersebut semakin kuat. Salah satu dampaknya mulai terlihat pada pasar bahan baku whey protein.
Harga Whey Protein Mengalami Lonjakan
Kenaikan harga whey protein menjadi salah satu perkembangan penting di industri dairy ingredients pada 2026.
Data yang dikutip DairyReporter dari Rabobank menunjukkan bahwa harga Whey Protein Concentrate 80% (WPC80) di Eropa meningkat dari sekitar €12.500 per ton pada Oktober 2025 menjadi €27.500 per ton pada Juli 2026, atau naik sekitar 120%.
Sementara itu, Whey Protein Isolate (WPI) meningkat dari sekitar €20.500 menjadi €32.500 per ton pada periode yang sama, atau naik sekitar 59%.
Kenaikan tersebut bukan hanya terjadi sesaat. Pada akhir Agustus 2026, harga WPC80 instant di pasar Eropa masih berada di sekitar €25.995 per ton, sekitar 122% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2025. Di Amerika Serikat, harga WPC80 juga tercatat sekitar 134% lebih tinggi secara year-on-year.
Dengan kata lain, kenaikan harga whey bukan sekadar isu sementara. Pasar high-protein ingredients sedang menghadapi perubahan antara permintaan yang meningkat dan kapasitas pasokan yang membutuhkan waktu untuk mengejar.
Mengapa Harga Whey Bisa Naik?
Salah satu faktor utamanya adalah meningkatnya permintaan terhadap produk tinggi protein.
Whey digunakan secara luas sebagai bahan baku dalam sports nutrition, protein drink, bar, snack, meal replacement, dan berbagai produk functional food lainnya. Ketika semakin banyak kategori makanan memasukkan protein sebagai selling point, kebutuhan terhadap whey ikut meningkat.
Tren GLP-1 juga menjadi salah satu katalis baru.
Penggunaan obat penurun berat badan berbasis GLP-1 membuat perhatian terhadap asupan protein semakin besar. Ketika nafsu makan berkurang, konsumen cenderung mencari makanan atau minuman dengan kandungan nutrisi yang lebih padat, termasuk protein. Reuters melaporkan bahwa meningkatnya penggunaan GLP-1 menjadi salah satu faktor utama yang mendorong permintaan whey protein pada 2026.
Namun persoalannya, pasokan whey tidak bisa bertambah secepat permintaannya.
Whey Tidak Bisa Diproduksi Secara Instan
Whey merupakan hasil samping dari proses produksi keju. Artinya, peningkatan permintaan whey tidak bisa begitu saja dijawab dengan membuka produksi whey baru tanpa mempertimbangkan rantai pasok dairy secara keseluruhan.
Selain ketersediaan susu dan produksi keju, dibutuhkan pula kapasitas pemrosesan untuk menghasilkan whey dengan kadar protein tinggi seperti WPC80 dan WPI.
Data pasar yang dirilis pada 2026 menunjukkan bahwa permintaan high-protein whey masih lebih kuat dibandingkan pertumbuhan pasokan, sementara penambahan kapasitas produksi membutuhkan waktu untuk dibangun dan beroperasi secara penuh.
Inilah yang membuat harga bahan baku protein menjadi semakin sensitif.
Lalu, Apa Artinya bagi Brand Protein Drink?
Bagi brand yang sedang mengembangkan protein drink, kenaikan harga whey dapat memberikan dampak langsung maupun tidak langsung terhadap Harga Pokok Produksi (HPP).
Semakin tinggi penggunaan whey dalam sebuah formula, semakin besar pula pengaruh harga bahan baku tersebut terhadap biaya produk.
Misalnya, brand ingin membuat produk dengan kandungan protein tinggi dan menggunakan WPI sebagai sumber protein utama. Ketika harga WPI meningkat, biaya formulasi juga berpotensi ikut meningkat.
Namun kondisi ini bukan berarti brand harus menghentikan pengembangan produk protein.
Justru, situasi seperti ini membuat proses R&D dan pemilihan bahan baku menjadi semakin strategis.
Tidak Selalu Harus Memilih Protein dengan Harga Paling Tinggi
Salah satu kesalahan dalam mengembangkan protein drink adalah menganggap bahwa semakin premium bahan proteinnya, semakin baik produknya.
Padahal, pemilihan sumber protein seharusnya mempertimbangkan beberapa faktor sekaligus:
Target konsumen → positioning → kadar protein → karakter produk → biaya formulasi → target harga jual.
WPC, WPI, maupun sumber protein susu lainnya memiliki karakteristik yang berbeda.
WPC (Whey Protein Concentrate) dapat menjadi pilihan ketika brand ingin mendapatkan sumber whey protein dengan pertimbangan biaya yang lebih kompetitif.
WPI (Whey Protein Isolate) memiliki kadar protein lebih tinggi dan sering digunakan untuk produk dengan positioning premium.
Sementara itu, MPC (Milk Protein Concentrate) memiliki kombinasi protein casein dan whey sehingga dapat menjadi alternatif menarik untuk konsep produk tertentu.
Artinya, pilihan protein bukan hanya persoalan:
“Mana yang paling tinggi proteinnya?”
Tetapi:
“Mana yang paling sesuai dengan konsep produk dan target konsumen?”
Protein Drink Juga Mulai Bergerak ke Konsep yang Lebih Luas
Menariknya, perkembangan pasar protein tidak berhenti pada produk whey shake.
Protein semakin sering dikombinasikan dengan manfaat lain, seperti:
Protein + Fiber
Protein + Electrolyte
Protein + Vitamin & Mineral
Protein + Collagen
Protein + Functional Ingredients
Protein Water atau Clear Protein
Perubahan ini menunjukkan bahwa protein mulai diposisikan bukan hanya sebagai produk sports nutrition, tetapi sebagai bagian dari everyday functional nutrition.
Bahkan di tengah tren GLP-1, whey semakin banyak digunakan sebagai functional ingredient untuk meningkatkan kandungan protein dan asam amino pada berbagai produk makanan dan minuman.
Bagi brand, kondisi ini membuka ruang untuk mengembangkan produk yang lebih spesifik.
Bukan hanya:
“Protein Drink untuk Gym.”
Tetapi bisa berkembang menjadi:
“Protein Drink untuk Active Lifestyle.”
“Protein + Hydration.”
“Protein + Fiber.”
Atau bahkan “Protein untuk Daily Nutrition.”
Tantangan Baru bagi Brand: Menjaga Protein, Rasa, dan Harga
Kenaikan harga bahan baku akhirnya membawa satu pertanyaan penting bagi brand:
Bagaimana membuat produk protein yang tetap kompetitif tanpa mengorbankan kualitas?
Jawabannya tidak selalu dengan mengurangi kadar protein.
Brand dapat mengevaluasi kembali:
jenis protein yang digunakan,
kombinasi beberapa sumber protein,
kadar protein per serving,
ukuran serving,
penggunaan functional ingredients,
flavor dan sweetener,
jenis kemasan,
serta target harga jual.
Di sinilah proses formulasi menjadi penting.
Sebuah produk protein yang sukses bukan hanya produk dengan angka protein tinggi, tetapi produk yang memiliki formula yang sesuai dengan target pasar, enak dikonsumsi, feasible secara biaya, dan dapat diproduksi secara konsisten.
Peluang Protein Tetap Besar di Tengah Kenaikan Harga
Meskipun harga whey meningkat, tren konsumsi protein justru menunjukkan bahwa kategori ini masih memiliki peluang besar.
Kenaikan harga dapat menjadi tantangan bagi brand, tetapi sekaligus menunjukkan bahwa protein telah menjadi bahan baku strategis dalam industri makanan dan minuman.
Bagi calon brand owner, kondisi ini justru menjadi alasan untuk lebih matang dalam merancang produk sejak tahap awal.
Tidak cukup hanya menentukan:
“Saya mau bikin produk whey.”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Siapa target konsumennya, berapa kadar protein yang dibutuhkan, sumber protein apa yang paling sesuai, berapa target HPP-nya, dan bagaimana produk tersebut akan berbeda di pasar?”
Saatnya Mengembangkan Produk Protein dengan Strategi yang Tepat
Tren high-protein masih membuka banyak peluang bagi brand yang ingin masuk ke kategori functional food. Namun dengan kondisi harga bahan baku yang dinamis, pengembangan produk perlu dilakukan dengan pendekatan yang lebih strategis.
Mulai dari pemilihan sumber protein, formulasi, flavor, functional ingredients, hingga kemasan, setiap keputusan akan berpengaruh terhadap kualitas dan daya saing produk.
Nutrafood membantu brand mengembangkan produk functional food berbasis powder melalui proses R&D dan manufaktur yang disesuaikan dengan konsep, target pasar, dan kebutuhan brand.
Karena di tengah tren protein yang terus berkembang, produk yang tepat bukan selalu yang menggunakan bahan paling mahal, tetapi yang memiliki formula paling tepat untuk pasarnya.
Ingin mengembangkan produk protein drink sendiri? Konsultasikan konsep produk Anda bersama Nutrafood.