floating whatsapp

Mengenal GLP-1 dan Dampaknya terhadap Industri Makanan & Minuman Fungsional

Amelia • 28 September 2026

Mengenal GLP-1 dan Dampaknya terhadap Industri Makanan & Minuman Fungsional

Beberapa tahun terakhir, GLP-1 menjadi salah satu istilah yang semakin sering muncul dalam pembahasan kesehatan, weight management, hingga industri makanan dan minuman.

Nama seperti semaglutide dan tirzepatide juga semakin dikenal seiring meningkatnya penggunaan terapi berbasis GLP-1. Namun, di balik pembahasan mengenai weight management, ada satu hal yang menarik untuk diperhatikan oleh pelaku industri makanan dan minuman: perubahan pola makan dan kebutuhan nutrisi konsumen.

Lalu, sebenarnya apa itu GLP-1 dan mengapa topik ini mulai relevan bagi industri functional food?

Apa Itu GLP-1?

GLP-1 atau Glucagon-Like Peptide-1 adalah hormon yang secara alami diproduksi oleh tubuh, terutama oleh sel enteroendokrin di saluran pencernaan setelah seseorang makan.

GLP-1 memiliki berbagai fungsi fisiologis, termasuk berperan dalam regulasi nafsu makan, rasa kenyang, dan pengaturan glukosa. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa GLP-1 dapat memengaruhi pengosongan lambung dan asupan makanan.

Dalam dunia medis, mekanisme GLP-1 kemudian dimanfaatkan melalui obat-obatan yang bekerja pada reseptor GLP-1 atau jalur yang berkaitan dengannya untuk membantu menangani kondisi tertentu seperti diabetes tipe 2 dan obesitas.

Penting untuk dibedakan: GLP-1 adalah hormon alami dalam tubuh, sedangkan obat berbasis GLP-1 merupakan terapi medis yang bekerja pada jalur tersebut. Artikel ini membahas GLP-1 dari perspektif tren industri dan pengembangan produk makanan, bukan sebagai panduan penggunaan obat.

Bagaimana GLP-1 Berkaitan dengan Nafsu Makan?

Salah satu alasan GLP-1 menjadi perhatian adalah hubungannya dengan appetite regulation.

Review terhadap sejumlah randomized controlled trials menemukan bahwa terapi analog GLP-1 dapat memengaruhi rasa lapar, kenyang, asupan makanan, serta dalam beberapa penelitian memengaruhi pengosongan lambung dan preferensi makanan.

Secara sederhana, perubahan tersebut dapat membuat seseorang:

  • lebih cepat merasa kenyang,

  • mengalami penurunan rasa lapar,

  • mengonsumsi makanan dalam jumlah yang lebih sedikit, dan

  • mengalami perubahan pola atau preferensi makan.

Karena itu, pembahasan GLP-1 tidak hanya relevan bagi industri farmasi atau kesehatan. Industri makanan dan minuman juga mulai perlu memperhatikan bagaimana perubahan pola konsumsi tersebut dapat memengaruhi kebutuhan produk di masa depan.

Lalu, Apa Hubungannya dengan Industri Functional Food?

Bayangkan seorang konsumen yang mengalami perubahan appetite sehingga porsi makannya menjadi lebih kecil.

Kebutuhan terhadap makanan bukan berarti otomatis hilang. Justru muncul pertanyaan baru:

Bagaimana mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan dari konsumsi yang lebih terarah dan praktis?

Di sinilah kategori functional food dan functional beverage memiliki ruang untuk berkembang.

Produk dengan positioning yang berfokus pada protein, fiber, hidrasi, atau nutrisi yang praktis dikonsumsi dapat menjadi bagian dari percakapan tersebut.

Namun, ini bukan berarti semua produk functional food harus diklaim sebagai produk untuk pengguna GLP-1.

Yang lebih penting bagi brand owner adalah memahami pergeseran kebutuhan konsumen dan bagaimana produk dapat dikembangkan untuk menjawab kebutuhan nutrisi tersebut secara tepat.

Protein Menjadi Salah Satu Area yang Menarik Diperhatikan

Protein menjadi salah satu kategori yang relevan dalam pembahasan nutrisi di era GLP-1.

Dalam advisory terbaru dari beberapa organisasi nutrisi dan obesitas, perhatian terhadap kecukupan protein menjadi salah satu bagian dari dukungan nutrisi selama terapi berbasis GLP-1, bersama dengan perhatian terhadap fiber dan hidrasi.

Hal ini membuka peluang pengembangan berbagai produk, misalnya:

  • protein drink powder,

  • protein shake,

  • nutritional beverage,

  • protein cereal atau malt drink,

  • milk protein-based beverage,

  • plant-based protein beverage.

Bagi brand owner, peluangnya bukan sekadar membuat “produk protein”, tetapi menentukan siapa target konsumennya, bentuk produk, rasa, serving size, positioning, hingga format kemasannya.

Fiber Juga Menjadi Bagian dari Percakapan

Selain protein, fiber juga menjadi komponen yang banyak dibahas dalam rekomendasi nutrisi terkait terapi berbasis GLP-1.

Asupan fiber dari makanan maupun sumber tambahan dapat menjadi bagian dari pola makan yang mendukung kesehatan metabolik dan pencernaan. Namun, kebutuhan setiap orang dapat berbeda dan peningkatan fiber juga perlu dilakukan secara bertahap dengan asupan cairan yang cukup.

Dari sisi product development, kategori fiber dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk, seperti:

  • fiber drink,

  • powdered fiber beverage,

  • functional drink,

  • cereal atau grain-based beverage,

  • kombinasi fiber dengan bahan fungsional lainnya.

Sekali lagi, produk seperti ini tidak otomatis menjadi “produk GLP-1”. Yang berubah adalah cara industri melihat kebutuhan konsumen terhadap produk yang lebih terarah pada nutrisi dan convenience.

Bagaimana dengan Hidrasi?

Perubahan pola makan juga membuat hidrasi menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan.

Dalam rekomendasi nutrisi untuk terapi berbasis GLP-1, kecukupan cairan dan pengelolaan asupan fiber menjadi bagian dari perhatian nutrisi, terutama karena keluhan gastrointestinal seperti konstipasi dapat terjadi pada sebagian pengguna terapi.

Hal ini dapat menjadi ruang eksplorasi untuk kategori seperti:

electrolyte drink, hydration powder, dan functional beverage.

Terutama karena format powder dan single-serving dapat memberikan pilihan konsumsi yang praktis.

Jadi, Apakah GLP-1 Akan Mengubah Industri Makanan?

Belum tentu berarti GLP-1 akan membuat seluruh industri makanan berubah secara drastis.

Namun, perkembangan terapi berbasis GLP-1 memberikan sinyal mengenai perubahan cara konsumen memandang makanan, appetite, dan nutrisi.

Ketika perhatian konsumen bergeser dari sekadar “berapa banyak saya makan?” menjadi “apa yang saya konsumsi dan bagaimana memenuhi kebutuhan nutrisi?”, kategori functional food dapat memperoleh ruang yang semakin besar.

Bagi brand owner, ini dapat menjadi kesempatan untuk mulai mengeksplorasi kategori seperti:

1. Protein

Produk yang mendukung kebutuhan protein dalam format yang praktis.

2. Fiber

Produk minuman atau makanan dengan tambahan fiber.

3. Electrolyte & Hydration

Produk powder yang praktis untuk kebutuhan hidrasi.

4. Nutritional Beverage

Minuman dengan kombinasi berbagai komponen nutrisi sesuai konsep produk.

5. Convenient Functional Food

Produk yang mudah dikonsumsi dan memiliki positioning yang jelas.

Bukan Sekadar Mengikuti Tren, Tetapi Membaca Perubahan Kebutuhan

GLP-1 mungkin awalnya dikenal sebagai istilah medis.

Namun, perkembangan di sekitarnya menunjukkan bahwa perubahan pada appetite dan pola konsumsi dapat memiliki implikasi yang lebih luas terhadap industri makanan dan minuman.

Bagi pelaku usaha, tantangannya bukan sekadar membuat produk yang sedang viral.

Yang lebih penting adalah menjawab pertanyaan:

“Kebutuhan konsumen apa yang sedang berubah, dan produk seperti apa yang dapat menjawab kebutuhan tersebut?”

Dari sinilah product development menjadi penting.

Mulai dari pemilihan bahan, formulasi, rasa, bentuk sediaan, serving size, hingga packaging perlu dipertimbangkan sejak awal agar produk memiliki konsep yang jelas dan sesuai dengan target market.

Bagaimana Brand Bisa Mulai Mengembangkan Produk Functional Food?

Tidak semua brand owner memiliki fasilitas R&D atau pabrik sendiri. Karena itu, pengembangan produk melalui manufaktur pihak ketiga atau maklon dapat menjadi salah satu opsi.

Dalam proses pengembangan produk, brand dapat memulai dari konsep kemudian dilanjutkan ke:

Konsultasi → Pengembangan Formula → Sample → Revisi → Packaging → Produksi → Legalitas → Produk Siap Dipasarkan

Untuk kategori seperti protein, fiber, electrolyte, maupun berbagai functional beverage, konsep produk perlu disesuaikan dengan target konsumen, bentuk sediaan, positioning, serta ketentuan regulasi yang berlaku.

Bagi brand yang baru ingin masuk ke kategori functional food, proses tersebut dapat membantu mengubah ide produk menjadi konsep yang lebih siap untuk dikembangkan.

Kesimpulan

GLP-1 bukan hanya menjadi topik dalam dunia kesehatan. Perkembangan terapi berbasis GLP-1 juga menarik untuk diperhatikan dari perspektif industri makanan dan minuman karena berkaitan dengan appetite, pola konsumsi, dan kebutuhan nutrisi.

Protein, fiber, electrolyte, hydration, dan convenient nutrition menjadi beberapa kategori yang relevan untuk terus diamati.

Bagi brand owner, ini bukan tentang mengikuti tren GLP-1 semata. Ini tentang membaca perubahan kebutuhan konsumen dan menemukan peluang produk yang tepat.

Dan di situlah product development menjadi bagian penting dari perjalanan sebuah brand.

Punya ide produk functional food sendiri? Mulai diskusikan konsepnya bersama Nutrafood.