floating whatsapp

Ubi Ungu vs Matcha: Apakah Tren “Purple Era” Akan Menggantikan Dominasi Hijau?

Almuh • 11 Mei 2026

Ubi Ungu vs Matcha: Apakah Tren “Purple Era” Akan Menggantikan Dominasi Hijau?

Selama beberapa tahun terakhir, dunia food & beverage seolah identik dengan warna hijau. Mulai dari latte, dessert, sampai snack premium, matcha berhasil menjadi simbol gaya hidup sehat modern.

Tapi memasuki 2026, warna baru mulai mencuri perhatian: ungu.

Banyak cafe global mulai menghadirkan minuman berbasis ube (purple yam khas Filipina) dan berbagai olahan ubi ungu. Bahkan beberapa media internasional mulai menyebutnya sebagai “the next matcha” karena pertumbuhannya yang sangat cepat di pasar minuman modern. Beberapa jaringan besar di Inggris dan Amerika bahkan sudah merilis menu berbasis ube sebagai respons terhadap tingginya minat konsumen muda terhadap produk visual-friendly untuk media sosial.

Lalu pertanyaannya:
Apakah ubi ungu benar-benar bisa menggantikan matcha?

Jawabannya tidak sesederhana itu.

Matcha: Sang Pelopor Tren Premium Wellness

Sulit membahas tren minuman sehat tanpa menyebut matcha.

Bubuk teh hijau asal Jepang ini sukses besar karena punya kombinasi yang jarang dimiliki bahan lain: citra premium, manfaat kesehatan kuat, dan rasa khas yang mudah dikenali.

Kelebihan matcha:

1. Kaya antioksidan
Matcha terkenal tinggi kandungan katekin, terutama EGCG, yang banyak diteliti memiliki potensi mendukung perlindungan sel tubuh dari stres oksidatif.

2. Memberi energi lebih stabil
Kandungan kafein pada matcha bekerja bersama L-theanine, menghasilkan efek fokus yang cenderung lebih smooth dibanding kopi.

3. Branding wellness sudah sangat kuat
Di mata konsumen global, matcha sudah identik dengan healthy lifestyle.

Namun matcha juga punya tantangan.

Kekurangan matcha:

Harga relatif tinggi
Matcha berkualitas ceremonial punya biaya produksi mahal.

Rasa cukup “acquired taste”
Aftertaste grassy dan sedikit pahit tidak selalu cocok untuk semua lidah.

Pasokan mulai tertekan
Popularitas global membuat beberapa produsen mulai mengalami tekanan supply, bahkan kualitas produk di pasar jadi tidak selalu konsisten.


Ubi Ungu (Ube): Pendatang Baru dengan Daya Tarik Visual Kuat

Kalau matcha menang di citra wellness premium, ube menang telak di visual.

Warna ungu alaminya sangat fotogenik, sesuatu yang sangat penting di era TikTok dan Instagram. Banyak analis industri menilai visual unik ini menjadi pendorong utama kenaikan popularitasnya.

Kelebihan ubi ungu:

1. Warna alami yang sangat menarik
Tidak perlu pewarna tambahan untuk menghasilkan tampilan premium.

2. Rasa lebih mudah diterima pasar luas
Profil rasa cenderung creamy, ringan, sedikit vanilla-coconut notes, dan lebih familiar untuk konsumen awam.

3. Tidak mengandung kafein alami
Cocok untuk konsumen yang ingin minuman trendi tanpa stimulasi.

4. Kaya antosianin
Pigmen ungu ini dikenal sebagai antioksidan alami yang juga ditemukan pada blueberry dan beberapa berry lainnya.

Namun tentu tidak tanpa kekurangan.

Kekurangan ubi ungu:

Narasi wellness belum sekuat matcha
Secara positioning kesehatan, edukasi pasar masih perlu dibangun.

Sering disalahartikan
Masih banyak konsumen yang bingung membedakan ube, taro, dan purple sweet potato.

Supply chain masih berkembang
Lonjakan permintaan global membuat beberapa produsen mulai menghadapi tantangan pasokan dan standardisasi kualitas.


Jadi, Mana yang Lebih Unggul?

Kalau bicara fungsi kesehatan terkomunikasikan, matcha masih unggul.

Kalau bicara potensi viralitas visual dan penerimaan rasa mass market, ubi ungu punya peluang besar.

Sederhananya:

Matcha adalah simbol sophistication.
Ia bicara tentang ritual, mindfulness, premium wellness.

Ubi ungu adalah simbol excitement.
Ia bicara tentang novelty, visual pleasure, dan social sharing.

Keduanya tidak harus saling menggantikan.

Sama seperti kopi tidak menghapus teh, kemungkinan besar ube tidak akan “membunuh” matcha, tetapi menciptakan kategori baru yang hidup berdampingan.


Peluang Besar untuk Industri Pangan Fungsional

Bagi brand owner dan pelaku industri, tren ini memberi sinyal penting:

Konsumen modern tidak hanya mencari produk sehat.
Mereka juga mencari:

  • pengalaman visual
  • cerita budaya yang autentik
  • rasa yang approachable
  • manfaat fungsional yang jelas

Inilah mengapa bahan seperti matcha dan ubi ungu sama-sama punya masa depan cerah.

Pertanyaannya bukan lagi “mana yang menang?”
Melainkan:

siapa yang paling cepat mengolah tren ini menjadi produk inovatif yang benar-benar relevan di pasar.


Di dunia pangan fungsional, tren datang silih berganti. Tapi brand yang bertahan adalah mereka yang mampu menerjemahkan tren menjadi solusi nyata bagi konsumen.